Tuesday, May 8, 2012

PROSES SOSIALISASI dan KARIR


PENDAHULUAN

Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiologmenyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.

JENIS SOSIALISASI
Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Menurut Goffman kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal.
§  Sosialisasi primer
Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk kesekolah. Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya.
Dalam tahap ini, peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.
§  Sosialisasi sekunder
Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Salah satu bentuknya adalahresosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami 'pencabutan' identitas diri yang lama.

PROSES SOSIALISASI PRAKTEK

 Menurut George Herbert Mead
George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan menlalui tahap-tahap sebagai berikut.
§  Tahap persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
Contoh: Kata "makan" yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan "mam". Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
§  Tahap meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang anma diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other)
§  Tahap siap bertindak (Game Stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermainsecara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.
§  Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama--bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya-- secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.

Menurut Charles H. Cooley
Cooley lebih menekankan peranan interaksi dalam teorinya. Menurut dia, Konsep Diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang kemudian disebut looking-glass self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut.
1. Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain.'
Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba.
2. Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita.'
Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. MIsalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagai lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan dengan orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia.
3. Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut.
Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.

PEMBAHASAN

A.     KARIR YANG EFEKTIF

Untuk menata karir dengan sukses, orang memakai berbagai cara. Ada yang menatanya melalui kerja keras, lewat jenjang pendidikan, mulai dari bawah, kejujuran, dedikasi, loyalitas, keterampilan, tanggung jawab, dan sebagainya. Yang jelas, sukses dalam berkarir bukanlah suatu kebetulan, pasti ada yang melatarbelakanginya.
Dalam lingkungan perusahaan, umumnya seseorang membutuhkan perjalanan relatif panjang untuk sampai pada puncak karir. Tak sedikit pula orang mengatakan bahwa reputasi dan citra pekerja seseorang biasanya mengawali debut karir. Namun, reputasi dan citra pekerja perlu aktualisasi dan pengakuan dari jajaran organisasi secara luas dalam hal pola pikir atau cara pandang, disiplin, spirit, motivasi, dan lain sebagainya.
Dalam menentukan cara apa yang efektif untuk menata karir, terdapat kontradiksi antara pendapat beberapa ahli psikologi, teori reputasi dan filsuf. Mari kita simak pendapat mereka.
Ahli psikologi menggolongkan bahwa manusia terbagi menjadi tiga golongan:
1. Golongan pekerja, dimana golongan pekerja diprediksikan hanya mampu menjadi pekerja dan tidak dapat menjadi leader, apalagi seorang pemikir.
2. Golongan leader/pemimpin yang mampu memimpin bawahan, namun tidak mampu menjadi pemikir.
3. Golongan pemikir (thinker), manusia mempunyai kemampuan memecahkan masalah, mampu membuat strategi, perencanaan, dan implementasi menentukan arah, visi perusahaan.
Teori reputasi yaitu pandai menarik lingkungan anggota organisasi dengan kekuatan reputasinya sehingga ia dapat meraih karir sampai ke puncak.
Para filsuf, menyatakan bahwa manusia pada dasarnya sama-sama mempunyai kemampuan dasar alami (nature of human being), yaitu sama-sama memiliki motivasi, kemampuan,learning, personality, dan attitude yang memungkinkan semua manusia mempunyai peluang yang sama untuk meraih kesuksesan.
Mengacu pada teori sebab-akibat, kita harus optimis dengan penuh keyakinan bahwa kesuksesan tidak bisa hanya dilihat atau ditunggu, melainkan diusahakan. Untuk meraih kesuksesan dalam berkarir kita harus mengatasi tantangan dan menghalau rintangan, serta mempersiapkan diri atas syarat-syarat yang diperlukan. Kita pun harus meyakini dan tidak pula menyalahkan pendapat para psikolog, teori reputasi maupun filsuf.
Berikut ini adalah beberapa syarat menata karir yang efektif.
1. Vision (visi)
Visi adalah seni untuk melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata (vision is the art of seeing thing invisible). Sesuatu di sini bisa berupa prediksi-prediksi peluang organisasi untuk dijadikan halauan, gol, sasaran organisasi sehingga memudahkan untuk menentukan strategi organisasi yang tepat, membuat perencanaan dan mengimplementasikan dalam kegiatan organisasi. Penentuan visi menjadi tugas dan tanggung jawab top manajemen. Jadi, bila Anda ingin menata karir menuju top manajemen, berarti Anda harus memiliki visi.
2. Balance (keseimbangan)
· Nilai keseimbangan dalam segala hal, diperlukan. Bila Anda tidak mengontrol keseimbangan dalam kegiatan, akan menimbulkan kegagalan, penyimpangan, kekecewaan dan sebagainya. Sebagai contoh, keuntungan seimbang dengan modalnya, sedangkan keinginan dengan usahanya, cita-cita dengan kemampuan, begitu pula hasil dengan pengorbanan, dan sebagainya.
· Arti lain dari balance adalah adil. Adil merupakan salah satu karakter pemimpin. Bila tidak bisa berbuat adil, Anda tidak akan meraih reputasi dan dukungan dari anggota organisasi.
3. Energy (energi)
· Energi adalah kapasitas diri kita untuk melakukan suatu tindakan yang diperkuat oleh niat yang besar. Kapasitas tenaga, talenta, daya pikir, keterampilan merupakan sesuatu yang harus dimiliki bila kita ingin menata karir kita sampai batas akhir/puncak.
· Kinerja seorang tenaga karir akan dinilai dari tinggi rendahnya produktivitas yang dipengaruhi oleh kapasitas tenaga (kuantitas hasil, talenta, dan daya pikir). Sedangkan kapasitas keterampilan dilihat dari satuan kecepatan dan kualitas.
Dengan demikian energi mempunyai kemampuan untuk menghasilkan produktivitas, baik kuantitas maupun kualitas, sudut pandang, ide, keputusan, satuan kecepatan. Semua ini mengandung nilai-nilai/kekuatan untuk menaiki jenjang menata karir yang efektif.
4.Courage (keberanian)
·Keberanian terkendali tanpa batas, yaitu berani mengatasi permasalahan namun bukan berani karena nekad. Berani mengambil keputusan yang berisiko besar dan menghasilkan sesuatu yang besar merupakan tipe pemimpin sejati. Berani mengambil keputusan dengan hasil yang tepat adalah salah satu contoh tindakan yang bijak. Berani berkorban merupakan contoh keteladanan seorang pemimpin. Berani mati dalam berperang merupakan bukti kesetiaan seorang pemimpin.
· Menata karir berarti menata kehidupan panjang. Seseorang harus berani berkorban, berani lelah, berani pusing, dan berani melakukan di luar kebiasaan dimana orang tidak berani melakukannya.
5. Achievement (pencapaian prestasi)
· Sukses mencapai prestasi sampai puncak karir (achievement) tidak diukur setinggi apa ia berada melainkan caranya (tantangan dan pengorbanan) yang dijadikan ukuran. Seberapa sulit ia mengalahkan segala tantangan, hambatan, dan kesulitan.
· Keterampilan, skill dan attitude merupakan inti dari achievement yang dapat menentukan keberhasilan dalam menata karir yang efektif.
6. Challenge (tantangan)
· Tantangan merupakan sebuah kesempatan untuk unjuk prestasi/mengaktualisasikan kemampuan kita di dalam lingkungan organisasi. Tanpa tantangan, dinamika kehidupan tidak memberikan arti dan makna kesuksesan.
· Tantangan yang berhasil kita atasi merupakan bukti tertanamnya nilai mentalitas yang tidak pernah menyerah dalam diri seorang pemimpin yang merupakan daya juang untuk menata karir.
· Kita membutuhkan tantangan untuk ujian mental dan usaha dalam menata karir yang efektif.
7. Dream (impian)
· Impian adalah motivasi awal untuk menentukan strategi dan langkah untuk mewujudkan impian tersebut. Tentunya impian ini adalah impian yang terukur, spesifik, dapat tercapai, realistis dan memiliki batas waktu pencapaian (smart).
· Dalam mencapai impian atas karir yang diinginkan membutuhkan komitmen dan hasrat/kesungguhan yang tidak boleh padam dengan mengerahkan seluruh potensi dan kapital yang dimiliki.


B.      JALAN KARIR REALISTIK

Setiap orang memiliki tujuan karir tertentu yang ingin kita capai. Ini adalah tujuan Anda yang berkaitan dengan karir Anda dan masa depan Anda. Tujuan Anda mungkin untuk menaiki tangga perusahaan atau untuk mendapatkan promosi Anda telah membidik. Apapun itu mungkin, pastikan itu adalah tujuan konkrit, dapat dicapai dan realistis. 

1. Perencanaan karir pertanyaan 

Yang paling penting tentang penetapan tujuan karir adalah untuk mengetahui dari mana Anda menuju dan di mana Anda akan pergi sebelum Anda tiba di sana. Rencanakan tujuan karir jangka pendek Anda dan jangka panjang dengan bijaksana. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta diri Anda pertanyaan yang tepat. 

a. Tanyakan diri Anda apa yang Anda benar-benar bergairah tentang karier-bijaksana. Apa yang Anda akan menikmati lakukan setiap hari? Apakah karier atau pekerjaan Anda saat ini menantang Anda tepat? Apakah itu memenuhi? 

b. Apakah Anda senang melakukan apa yang Anda lakukan saat ini? Apakah Anda lebih suka melakukan sesuatu yang lain? 

c. Apakah Anda menikmati lingkungan tempat anda bekerja dan apakah Anda puas moneter? 

d. Apakah karir Anda saat ini memungkinkan Anda untuk memenuhi impian Anda dan tujuan dalam hidup? 

Pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu Anda mengidentifikasi tujuan karir Anda lebih baik dan lebih efektif. Mereka akan membantu Anda mengidentifikasi dan memisahkan mimpi menjadi tujuan jangka panjang dan jangka pendek. 

2. Karir penetapan tujuan tips 

a. Tujuan Realistis: kunci untuk menetapkan tujuan karir adalah untuk menetapkan tujuan yang realistis dan dapat dicapai. Jika anda bermimpi mengambil alih perusahaan Anda, yang mungkin sedikit tidak realistis. Tujuan seperti menjadi CEO perusahaan dapat dicapai dan realistis. Ketika Anda tentukan sendiri tujuan dicapai dan realistis dan ketika Anda mencapainya, Anda akan merasa baik tentang diri Anda sendiri. Ini akan memberi Anda kepercayaan diri untuk bekerja lebih keras. 

b. Manageably tujuan kecil: Pernah mendengar gigitan dont off lebih dari yang Anda bisa mengunyah? Sama berlaku untuk tujuan karir Anda. Pastikan bahwa tujuan Anda telah digariskan untuk karir Anda dapat dikelola. Lakukan ini dengan membagi tujuan utama Anda ke tujuan yang lebih kecil yang lebih mudah untuk mencapai dan membawa Anda ke arah tujuan utama. 

c. Bekerja pada sasaran sistematis: Pekerjaan pada tujuan Anda satu per satu dan dengan cara yang sistematis. Jangan terburu-buru dan tidak teratur. Ini hanya akan membingungkan Anda dan menempatkan Anda pergi bekerja menuju tujuan Anda. 

d. Perubahan kecil: Membuat perubahan kecil dalam kebiasaan kerja Anda. Jika Anda berpikir hal tertentu yang Anda lakukan dan salah satu yang bisa berbuat lebih baik dapat meningkatkan kesempatan Anda untuk mendapatkan promosi itu, atau mendapatkan kenaikan gaji gaji atau akan membantu Anda menaiki tangga perusahaan lebih cepat, kemudian melakukannya! Apa yang menghentikan Anda? 

e. Roadmap karir Anda: roadmap adalah panduan untuk mengarahkan Anda ke arah yang benar. Merencanakan dan membuat peta jalan yang akan membuat karir Anda semua lebih menantang dan bermanfaat dan akan meningkatkan kemungkinan untuk mencapai tujuan karir Anda. 

f. Fokus: Tidak ada yang lebih baik daripada untuk tetap fokus pada tujuan karir Anda dan rencana. Ini akan membantu Anda berkonsentrasi pada mana Anda sedang menuju dalam karir Anda.

SUMBER :

No comments:

Post a Comment

Post a Comment